Rabu, 04 April 2012

Facebook sebagai Computer Mediated Communication (CMC)


                        Facebook sebagai Computer Mediated Communication (CMC)

Abstrak:
            Computer mediated Communication atau yang lebih dikenal dengan CMC ini merupakan reality pada ruang lingkup (alam maya) dengan menggunakan internet. Dalam internet komunikasi memiliki konteks komunikasi massa, artinya bahwa pengguna internet dalam melakukan komunikasi berhadapan dengan pengguna lain dalam jumlah banyak yang masing-masing berperan sebagai komunikatar dan komunikan, bentuk pesan dan sifat yang disampaikan melalui semua media komunikasi klasik, dimiliki oleh semua medium internet. Pengiriman dan penerimaan serta umpan balik pesan yang disampaikan komunikan dan komunikator relatif lebih cepat. Dalam konteks melalui internet dimungkinkan terjadinya komunikasi antar berbagai personal yang rentang perbedaan baik secara sosiologis maupun budaya yang sangat berbeda. Internet sebagai media komunikasi yang memiliki penawaran interaktif yang dinamis terhadap penggunanya media internet mampu menjadi pusat informasi dan sumber informasi yang tidak terbatas, Luas jangkauan dari media internet tentu saja tidak terbatas, sehingga dengan demikian batasan-batasan dalam fisik dalam melakukan komunikasi semakin disnibikan melalui internet.
            CMC sebenarnya dilakukan dengan cara representasi informasi digital yang bersifat diskrif, yang termasuk model CMC adalah email, chating, wibesite. Facebook disebut sebagai salah satu bentuk/media CMC yakni termasuk dalam World Wide Web (www) atau yang dimaksud dengan Web. Web adalah suatu ruang informasi yang yang dipakai oleh pengenal global yang disebut Uniform Resource Identifier (URL) untuk mengidentifikasi sumber-sumber daya yang berguna. Web sering dianggap sama dengan Internet secara keseluruhan, walaupun sebenarnya ia hanyalah bagian daripadanya.
Kata Kunci: CMC, Internet, Situs Jejaring social, Facebook


PENDAHULUAN
Saat ini, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin lama semakin canggih, komunikasi sosial pun ikut terbawa arus modernisasi. Jaman dahulu sebelum alat-alat komunikasi ditemukan, orang-orang hanya mengenal komunikasi dalam bentuk suara atau gambar saja. Mereka berkomunikasi dengan cara langsung (face-to-face) dan tertulis. Kemudian mulai berkembang dengan adanya alat-alat komunikasi seperti telepon, pager, radio, dan fax. Komunikasi pun semakin praktis dengan ditemukannya telepon genggam. Lalu muncul media baru yang sangat menarik yaitu internet. Saat ini internet muncul sebagai salah satu media komunikasi yang paling digemari oleh segala kalangan usia dan paling banyak digunakan dalam bersosialisasi.( Zulkarmain Nasution)
Cukup dengan seperangkat peralatan komputer dan koneksi internet, maka kita semua dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua orang di seluruh penjuru dunia saat itu juga. Tidak hanya itu, internet juga memudahkan semua kegiatan baik untuk memenuhi kebutuhan dasar, berbisnis, maupun kepentingan hiburan. Fasilitas-fasilitas menarik seperti internet banking, online shop, hingga suguhan berita-berita live report semakin mempercepat perkembangan media komunikasi yang cangggih ini. Semuanya dapat diperoleh hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Terlebih lagi saat ini koneksi internet semakin mudah didapatkan dengan harga yang cukup terjangkau. Bahkan sekarang banyak area-area wifi yang menyuguhkan koneksi internet gratis. Karena kemudahan dan kecanggihannya, internet sekarang ini tidak hanya menjadi alat komunikasi namun juga menjadi life style (gaya hidup) bagi masyarakat.
Kecanggihan inovasi internet inilah yang membuka kesempatan berbagai orang untuk menciptakan berbagai macam situs web, salah satunya adalah situs jejaring sosial (social networking). Jejaring sosial adalah situs untuk membangun komunikasi online antara sekelompok orang yang berbagi hobi atau aktivitas atau mencari tahu hobi dan aktivitas orang lain (building online communication of people who share interest and/or activities, or who are interested in exploring the interest and activities of others). Situs jejaring sosial ini memungkinkan para penggunanya untuk mengumpulkan teman dan relasi di profile account mereka baik itu yang mereka kenal atau yang mereka ingin kenal. Tujuan utama situs jejaring sosial adalah sebagai media untuk memperluas jaringan sosial yang bermanfaat untuk pergaulan dan relasi. Kita dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan seluruh pengguna situs jejaring sosial tersebut. Beberapa contoh situs jejaring sosial yang sudah sering kita dengar antara lain Friendster, My Space, Classmates, Hi5, dan lain sebagainya. Facebook dan Twitter adalah situs jejaring sosial yang paling digemari saat ini.
Situs-situs jejaring sosial semakin lama semakin digemari oleh segala kalangan, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, karyawan maupun pengusaha, dan sebagainya. Semuanya berlomba-lomba membuat account di situs-situs jejaring sosial guna memenuhi gaya hidup.
Dalam artikel ini akan dijelaskan apa dan bagaimana sebuah Jejaring Sosial ( Social Networking ) dapat dikatakan sebagai media komunikasi antar manusia. Dengan Computer Mediated Communication (CMC) setiap orang berkomunikasi dengan orang lain tanpa perlu bertatap muka langsung. Termasuk jenis CMC yang bagaimanakah facebook itu? Bagaimana karakteristiknya dan kaitannya dengan teori-teori CMC, mengapa facebook disebut sebagai salah satu bentuk CMC, bagaimana conten media Facebook  jika dikaitkan dengan lima karakteristik komunikasi Online , Jelaskan secara teknis Multimedia seperti apa? Sinkronitas seperti apa?, bagaimana Facebook jika dikorelasikan dengan teori / prespektif  Joseph Walther, dan apakah Facebook membentuk pola interaksi yang baru atau tidak? Semua itu akan dijelaskan secara jelas dalam artikel ini.







 PEMBAHASAN
Facebook atau disingkat FB adalah sebuah situs web jejaring sosial populer yang diluncurkan pada 4 Februari 2004. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard kelahiran 14 Mei 1984 dan mantan murid Ardsley High School. Pada awal masa kuliahnya situs web jejaring sosial ini, keanggotaannya masih dibatasi untuk mahasiswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Universitas Boston, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-e suatu universitas (seperti: .edu, .ac, .uk, dll) dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs jejaring sosial ini. http://id.wikipedia.org/wiki/Facebook
Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan alamat surat-e apa pun dapat mendaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah, tempat kerja, atau wilayah geografis. Hingga Juli 2007, facebook memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi, dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serikat, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya. Fitur hiburan dalam Facebook disebut aplikasi. Contohnya antara lain permainan video, kuis, dan lain sebagainya.
Seperti yang kita ketahui bahwa Computer-Mediated Communication (CMC) adalah istilah yang digunakan untuk melakukan komunikasi antar dua orang atau lebih yang dapat saling berinteraksi melalui komputer yang berbeda. Hal yang dimaksud di sini bukanlah bagaimana dua mesin atau lebih dapat saling berinteraksi, namun bagaimana dua orang atau lebih dapat berkomunikasi satu dengan lainnya dengan menggunakan alat bantu komputer melalui program aplikasi yang ada pada komputer tersebut. Dengan ini dapat diketahui, bahwa yang diperlukan partisipan CMC dalam menjalankan komunikasi dengan komunikannya harus melibatkan dua komponen, yaitu computer dan jaringan internet. Sebenarnya, bukan hanya computer dan jaringan internet saja, namun dalam computer tersebut harus terdapat program atau aplikasi tertentu yang memungkinkan komunikator untuk berinteraksi dengan komunikannya.

Computer Mediated Communication/ CMC Secara Global
            Kecepatan perubahan dalam teknologi komunikasi dalam galaksi elektronika menjadikannya sebagai basis bagi berbagai teknologi lainnya. Teknologi antariksa hanya akan berjalan dengan basis teknologi elektronik. Muara dari seluruh teknologi elektronika ini adalah komputer, tiruan dari otak manusia dengan peningkatan kemampuan yang berlipat ganda. Penggabungan komputer dengan telekomunikasi melahirkan suatu fenomena yang mengubah konfigurasi model komunikasi konvesional, dengan melahirkan kenyataan dalam dimensi ketiga. Jika dimensi pertama adalah kenyataan keras dalam kehidupan empiris, dimensi kedua merupakan kenyataan lunak dalam kehidupan simbolik dan nilai-nilai yang dibentuk, maka dengan dimensi ketiga dikenal kenyataan maya (virtual) yang melahirkan masyarakat lainnya.
            Bagian ini dimaksudkan sebagai kajian atas basis material dalam moda komunikasi. Untuk itu perlu dibedakan antara teknologi yang secara langsung digunakan untuk mewujudkan produk media dan produk informasi, atau secara tidak langsung berupa teknologi yang memungkinkan media dan informasi yang diproduksi sampai atau diambil oleh konsumen.  Artinya dengan basis material inilah moda komunikasi dapat diproduksi dan dapat sampai kepada khalayak. Sedangkan basis sosial dari media komunikasi adalah seluruh aspek yang memungkinkan media dan informasi diproduksi. Ini mencakup 2 aspek, pertama bersifat tidak langsung berupa basis politik yang mendasari keberadaan institusional media komunikasi, dan basis ekonomi dengan logika pasar yang menggerakkan produksi dan distribusi moda komunikasi. Kedua, aspek bersifat langsung berupa basis kultural seperti jurnalisme dan seni yang mendasari produksi media dan informasi.
            Dalam konteks kajian sosial, ranah teknologi komunikasi dapat dilihat melalui dimensi politik dan ekonomi sebagai perspektif dari media komunikasi secara struktural. Sedangkan permasalahan intrinsik teknologi komunikasi dapat difokuskan pada basis material dan social yang secara langsung mendasari proses produksi media dan informasi komunikasi. Dari sini dilihat basis kultural yaitu perangkat lunak yang menggerakkan proses produksi media dan informasi komunikasi. Perangkat lunak ini dapat dibedakan dalam dua tahap, pertama berfungsi untuk menjalankan mesin-mesin teknologi, dan kedua mendasari proses produksi media dan informasi komunikasi. Dengan begitu keterlibatan seseorang dalam proses produksi media komunikasi pada dasarnya adalah pada basis kultural yang dijalankan, apakah berupa perangkat lunak pada mesin-mesin teknologi komunikasi, ataukah dalam proses produksi media dan informasi.          
            Perubahan dalam kehidupan berlangsung cepat. Kemajuan teknologi yang muncul dalam penggunaan media, tidak mungkin direm. Sebagai pemikir filsafat sosial, McLuhan mengajak melihat bahwa media itulah yang mengubah kehidupan masyarakat.
            Dengan menyadari efek yang ditimbulkan oleh teknologi elektronik yang digunakan media, yang dihadapi oleh masyarakat bukan lagi sekadar kekuatan pesan, tetapi dari media yang sebenarnya merupakan perpanjangan dari indra manusia. Perubahan merasuki dalam kehidupan, mengubah berbagai pola hubungan.
            Media yang semula bertumpu kepada pesan (terutama kata) yang dikandungnya, kini didukung oleh teknologi elektronik. Proses komunikasi sebagaimana yang dijabarkan Laswell sudah tidak memadai untuk menjelaskan fenomena media. Komunikasi pada dasarnya terdiri atas teknologi media, yaitu perangkat keras (hardware), dan perangkat lunak (software), dan pesan. Sumber pada dasarnya adalah diri perancang perangkat lunak, perancang pesan dan penyampai pesan.
Dengan cara lain dapat dilihat dari adanya pihak yang berkepentingan untuk menyampaikan pesan, untuk itu pesan akan dirancang oleh komunikator profesional,
dan pesan ini harus diolah dan disiapkan dengan perangkat lunak yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari perangkat keras.
            Dinamika komunikasi dengan demikian tidak seperti yang diformulakan oleh Laswell. Kini proses komunikasi berupa interaksi kepentingan atas pesan, perangkat lunak dan perangkat keras. Dalam dinamika ini sulit untuk diidentifikasi komponen mana sebenarnya yang mempengaruhi, karena satu sama lain saling menentukan. Suatu perangkat keras dikembangkan ada kalanya dikarenakan adanya dorongan dari perkembangan perangkat lunak, atau sebaliknya kemajuan perangkat keras memaksa lahirnya perangkat lunak baru, atau adanya kepentingan pesan menyebabkan diperkembangkan perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan sebagai pendukung.
            Demikianlah, di satu sisi teknologi media mempengaruhi kehidupan masyarakat, pada sisi lain dapat dilihat sebagai indikator sosial. Kemajuan teknologi media yang tidak mungkin terbendung (siapa pula yang berniat membendungnya?) dapat membagi masyarakat dunia dalam dua kelompok, satu kelompok sebagai produsen yang akan mengembangkannya, dan kelompok lainnya sebagai konsumen. Sebagai produsen ditandai dengan upaya pengembangan perangkat lunak (domain sosial) dan sekaligus bekerjasama dengan pengembang perangkat keras (domain fisika). Pertemuan antara dorongan perangkat lunak dan perangkat keras ini agaknya merupakan fenomena paling khas dari kerja sama antara
domain sosial dan fisika (termasuk alam dan matematika). Sementara konsumen adalah para pengguna (user) perangkat lunak, yang otomatis harus menggunakan perangkat keras yang sesuai, untuk mengolah pesan.
            Cepatnya invensi dan luasnya inovasi dalam teknologi komunikasi dalam “galaksi Elektronika” ditandai dengan fungsinya sebagai basis bagi berbagai teknologi lainnya. Teknologi antariksa misalnya hanya akan berjalan dengan basis teknologi elektronik. Jika “galaksi Guttenberg” menjadi faktor bagi “galaksi Industri”, maka “galaksi Elektronika” melahirkan “galaksi Informatika”. Perpaduan dari kedua galaksi terakhir ini melahirkan teknologi komputer, tiruan dari otak manusia dengan peningkatan kemampuan yang berlipat ganda. Penggabungan komputer dengan telekomunikasi melahirkan suatu fenomena yang mengubah konfigurasi media komunikasi konvensional, dengan melahirkan kenyataan dalam dimensi ketiga. Jika dimensi pertama adalah kenyataan keras dalam kehidupan empiris social dan alam (biasa juga disebut “hard reality”), dimensi kedua merupakan kenyataan dalam kehidupan simbolik dan nilai-nilai yang dibentuk (dipadankan dengan sebutan “soft reality”), maka dengan dimensi ketiga dikenal kenyataan maya (virtual reality) yang melahirkan suatu format masyarakat lainnya (Jones, 1995; Sparks, 2001).
            Masyarakat yang terbentuk dalam kenyataan virtual yang dikenal sebagai masyarakat cyber (cyber-society). Dari sini kemudian dikenal adanya ruang cyber (cyber-space) sebagai ajang yang memungkinkan adanya hubungan antar manusia. Karenanya pengkaji ilmu social (termasuk kultural) pada dasarnya akan menghadapi hubungan sosial dalam 3 macam dimensi kenyataan yaitu kenyataan “real” (empiris), simbolik, dan virtual. Pertanyaan yang menggugat adalah pertalian di antara ketiga dimensi kenyataan ini, sehingga dikenali adanya masyarakat empiris, simbolik dan cyber. Sejauh mana ketiga jenis masyarakat ini menjadi ruang hidup bagi manusia, agaknya akan menjadi pertanyaan epistemologis yang menantang. Interkontekstual ketiga macam kenyataan ini tidak pelak akan menuntut perombakan dalam orientasi dan landasan epistemologi cabang-cabang ilmu sosial. http://virtual.co.id/blog/cyberpr/feedback-30/
            Untuk itu fokus perhatian (focus of interest) dalam kajian dapat ditujukan pada komunikasi bermediasi komputer, atau Computer-Mediated Communication (CMC).
Dengan menjadikan CMC sebagai tumpuan, maka kegiatan komunikasi dapat dibedakan dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama, adalah komunikasi dengan informasi yang tersedia pada server yang terkoneksi secara virtual dalam jaringan global, baik yang bersifat sistem tertutup, semi terbuka, maupun terbuka. Informatika di dalam sistem ini dapat berdiri sendiri, atau juga merupakan konvergensi dari media massa konvensional seperti buku, suratkabar, film, radio dan televisi.
            Kelompok kedua, adalah komunikasi dengan informasi yang berada di luar sistem virtual interkoneksi jaringan komputer, melalui media interpersonal dan media massa yang tidak memiliki pertautan dengan CMC. Istilah media modern dan tradisional tidak lagi relevan, sebab seluruh media lama, baik media sosial yang dianggap tradisional maupun media massa yang dianggap modern, harus disebut sebagai media konvensional. Lebih lanjut ke depan, konvergensi media konvensional dengan CMC akan semakin ekstensif dan intensif.
            CMC berbasiskan pada informatika, dan ini yang membedakan dengan komunikasi konvensional yang berbasiskan pada proses dari sumber ke sasaran. Karenanya fenomena yang lahir atas keberadaan CMC, tidak dipandang sebagai fenomena komunikasi melainkan sebagai fenomena informatika. Ini membawa konsekuensi radikal dalam epistemologi dunia ilmu komunikasi. Dengan fokus pada informatika, hakekatnya dapat dilihat dalam dua wajah, pertama orientasi dalam komodifikasi (commodification) dan kedua orientasi kekuasaaan (power). Proses komodifikasi dengan sendirinya menjadikan informasi memiliki nilai ekonomis yang dapat dijadikan dasar untuk tujuan bisnis. Orientasi bisnis ada yang bersifat langsung, dijalankan sebagaimana halnya dalam kegiatan pasar baik untuk produk tangible maupun intangible. Tetapi ada pula bersifat tidak langsung sebagaimana dalam kegiatan komunikasi komersial umumnya (lihat: Mosco, 1996). (http://www.blog.com/CMC-Mc.Luhan.Pdf/)

            Sedangkan untuk tujuan kekuasaan dapat berorientasi politik ataupun kultural. Orientasi kekuasaan politik dilakukan oleh institusi pemerintah maupun institusi politik masyarakat. Sedangkan orientasi kekuasaan kultural dijalankan oleh institusi yang bergerak dalam pengembangan nilai-nilai, baik yang bersifat sekuler (profan) maupun spiritual (sakral). Hanya saja keberadaan dunia informatika memaksa sumber bagi situs yang berorientasi pada kekuasaan ini untuk menyesuaikan diri, dengan kekuasaan otonom dari user dalam menghadapi ruang cyber (cyber-sphare). Ruang cyber merupakan arena terbuka dan demokratis, sehingga dominasi dari kekuasaan politik dan kultural tidak dapat dijalankan di dalamnya. Karenanya pengelola situs harus menggunakan teks dan wacana yang demokratis (Dahlgren, 2001). Di samping itu setiap pihak dapat menjadi produsen informasi dalam ruang cyber, sehingga kecenderungan monopoli dan hegemoni dapat berkurang.
            Persoalan mendasar dari keberadaan ruang cyber terletak di tangan user. Kata kunci disini adalah user yang sepenuhnya otonom dalam menentukan informasi yang diproduksi atau diambilnya. Dengan kata lain sebagai user seseorang dengan mudah menjadi produsen dan konsumen informasi sekaligus. Sehingga motif dasar dalam menghadapi informasi dengan memproduksi atau mengambil, perlu dilihat apakah sebagai suatu upaya dalam obyektifikasi atau subyektifikasi. Dengan begitu akan menjadi kajian yang penting untuk mengetahui sejauh mana dunia informatika dalam ruang cyber dapat memenuhi kecenderungan obyektifikasi dan subyektifikasi ini (bdk: Berger dan Luckman, 1967; McQuail, 1987).
            Proses obyektifikasi berkaitan dengan informasi faktual, untuk yang ada di ruang cyber dapat dibagi dua kelompok, pertama adalah berita-berita yang merupakan ekstensi dari media massa konvensional seperti suratkabar, majalah, radio dan televisi. Kedua adalah berita yang memang disiapkan khusus oleh portal penyedia informasi. Kedua macam berita ini dengan sendirinya menyimpan masalah mendasar dalam obyektivitas dan faktualitasnya.
            Sedangkan informasi yang berfungsi untuk subyektifikasi bagi user tersedia dalam varian dari yang sepenuhnya mengekspolitasi tubuh sampai ke tataran yang lebih spiritual. Ragam dari materi informatika ini sangat kaya, karena pembuat situs memiliki kebebasan tanpa batas. Karenanya yang perlu berinisiatif untuk membatasi diri untuk memasuki situs adalah user sendiri sebagai konsumen. Bagi user yang ingin melindungi dirinya, tersedia sejumlah institusi perangkat lunak yang menyediakan program untuk memfilter materi dari situs yang dipandang tidak berguna. Dengan kata lain, dalam ruang bebas itu, setiap keputusan ditentukan oleh user. Sembari itu berkembang pula situs-situs yang memberikan bimbingan dan program untuk mengkalibrasi muatan situs hiburan.
            CMC menciptakan kenyataan berupa ruang sosial baru, tetapi keberadaannya berada di ruang publik (public sphere) konvensional. Basis material dari CMC adalah komputer yang memiliki fasilitas terkoneksi ke ruang cyber. Sementara koneksi ke ruang cyber menggunakan jaringan secara fisik melalui jaringan telekomunikasi baik tertutup dengan kawat (wire) maupun terbuka secara nirkawat (wireless). Regulasi untuk infrastruktur jaringan telekomunikasi diperlukan untuk menjamin agar tidak terjadi interferensi antar jalur frekuensi. Dengan kata lain, hanya alasan bersifat teknis seharusnya yang mendasari regulasi bagi basis
material kegiatan komunikasi.
            Karenanya regulasi macam apa sebenarnya diperlukan bagi CMC? Secara fisik, CMC berada pada pengguna, dan pada dasarnya tidak perlu ada regulasi bagi warga yang menggunakan komputer. Kalau ada kekuasaaan negara membatasi warganya menggunakan komputer yang terkoneksi ke jaringan virtual, tentunya tidak melalui pengaturan pemilikan dan penggunaan komputer. Akses CMC ke jaringan telekomunikasi baik melalui satelit maupun terestrial, baik dengan jaringan kawat maupun nirkawat, pada dasarnya tidak menggunakan fasilitas terpisah. Gelombang elektromagnetik baik kawat maupun gelombang udara sebagai telekomunikasi konvensional, merupakan infrastruktur yang standar dalam
kehidupan suatu masyarakat. Regulasi dan perijinan hanya perlu bagi pihak yang mengeksploitasi infrasruktur ini. Karenanya CMC yang memanfaatkan infrastruktur yang sudah legal, dengan sendirinya tidak lagi memerlukan regulasi. Analoginya, perusahaan jasa pos memerlukan perijinan, dan pengirim surat (pengguna jasa pos) tentu tidak memerlukan ijin.
            Pada awal dikenal fax (pengiriman signal elektronik yang dimodulasi menjadi visual) dan pengiriman file dengan komputer menggunakan modem, pernah dipersulit oleh perusahaan telekomunikasi di Indonesia dengan menetapkan pembatasan yang tidak jelas acuannya. Tetapi sekarang tidak lagi. Saat ini perusahaan jasa satelit dan jasa telekomunikasi hanya berkepentingan agar durasi gelombang elektromagnetiknya terjual sebanyak mungkin. Termasuk voice over internet protocol (VoIP) oleh pengguna yang tadinya dipersoalkan perusahaan telekomunikasi Indonesia, sekarang sudah bukan perbuatan yang harus sembunyi-sembunyi.
            Pengguna CMC hanya “menumpang” pada fasilitas penjual jalur frekuensi, dan penyedia jasa telekomunikasi yang sudah ada. Baru menjadi masalah jika tarip pulsa dalam infrastruktur telekomunikasi terlalu tinggi. Untuk itu diharapkan muncul inovasi teknologi yang memungkinkan pengguna CMC dapat mengakses jaringan virtual, tanpa melalui telekomunikasi konvensional. Dengan hukum dialektika dalam inovasi, selalu akan muncul teknologi untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia.
            Karenanya pendapat dalam masyarakat yang mengharapkan agar ada departemen pemerintah atau setingkat menteri untuk mengatur CMC atau biasa disebut sebagai bidang telematika (telekomunikasi dan informatika), perlu disikapi lebih kritis. Negara memang dapat menjadi faktor percepatan dalam pertumbuhan teknologi baik fisik maupun sosial. Tetapi selama paradigma yang menggerakkan negara bersifat otoriterisme, yang terjadi hanya pengendalian publik. Setiap galaksi dalam komunikasi, mulai dari “galaksi Guttenberg” sampai “galaksi Elektronika” pada dasarnya menggerakkan dan memajukan peradaban melalui proses liberalisasi. Pengendalian oleh negara atas cara-cara warga masyarakat bermedia, merupakan ciri sistem otoritarian. Sementara ajang komunikasi hanya dapat berkembang dalam paradigma liberalisme (lihat: Siebert, Peterson, dan Schramm, 1956).http://www.blog.com/CMC-Mc.Luhan.html/

            Keberadaan CMC dapat dilandasi alasan yang bersifat filosofis, mengingat sistem media ini dibanding dengan media lainnya, dipandang yang paling memenuhi hak dasar (azasi) manusia, yaitu hak untuk menyatakan pikiran dan pendapat (right to express) dan hak untuk mengetahui (right to know) dari warga masyarakat. Media konvensional terutama media massa pada dasarnya bersifat linier, dengan produksi dan distribusi atau pemancaran masih bertolak dari subyektifitas produsen media. Dengan kata lain, seluruh materi produk informasi yang disampaikan, masih tetap merupakan hasil keputusan dari pemilik dan pengelola media.
            Sedangkan dalam sistem CMC, seluruh akses (masuk dan mengambil) produk informasi, sepenuhnya merupakan keputusan pengguna. Pengelola media hanya berkewajiban menyediakan dan menyimpan sebanyak kemampuan memproduksi dan daya tampung server. Selain itu juga dengan jaringan virtual, pengelola sumber (situs) produk informasi tidak dapat menghalangi, bahkan secara moral harus memberikan akses agar pengguna dapat masuk memanfaatkan produk informasi di server lain. Semakin banyak link yang dimungkinkan dari suatu situs, semakin berharga keberadaannya.
            Pertanyaan lebih lanjut, apakah CMC dengan “galaksi Informatika” membawa perubahan yang mendasar dalam peradaban manusia? Dalam lingkup struktur mikro(perusahaan), CMC dapat merombak pola hubungan dalam manajemen. CMC dapat   “memaksa” sistem manajemen agar bersifat terbuka, dan menjadikan seluruh sistem dalam struktur mikro terintegrasi. Prinsip dasar 3 C (capital – cost calculating) yang menggerakkan produksi dan pemasaran (marketing) berbasiskan CMC, terbukti meningkatkan efektivitas dan efisiensi, yang sekaligus tentunya pada profit secara signifikan.
            Tetapi perubahan tidak hanya dilihat dari signifikansi terhadap modal. Lebih jauh perlu dilihat pada perubahan dari masyarakat agraris, ke masyarakat industrial, kemudian lahir masyarakat informasi, sejauh mana membawa perubahan yang signifikan. Perubahan social sering dilihat hanya dari mobilitas kelompok masyarakat. Karenanya dari tataran agraris ke industrial, dilihat terjadi perubahan konfigurasi dalam struktur masyarakat, yaitu pergantian kelompok dan tipologi dalam kelas sosial. Sementara mobilitas sosial yang berlangsung pada hakekatnya tidak membawa perubahan dalam kualitas struktur sosial, sebab eksploitasi oleh kaum feodal pada masyarakat agraris kemudian digantikan oleh kaum kapitalis industrial. Dengan begitu ruang publik yang bersifat eksploitatif terhadap manusia pada hakekatnya tetap terjadi.
            Lalu bagaimana kualitas struktur sosial dalam masyarakat informasi? Signifikansi suatu perubahan sosial agaknya perlu ditempatkan dalam perspektif yang mengacu pada makna yang bersifat azasi dalam kehidupan warga. Untuk itu bertolak dari asumsi bahwa setiap interaksi sosial merupakan wujud dari upaya memenuhi hak manusia bersifat azasi. Parameter dengan hak azasi ini menempatkan fokus pada manusia dan hak-haknya. Untuk itu diperlukan kajian dan refleksi lebih lanjut.
            Fokus pada teknologi yang mengubah struktur moda komunikasi untuk kemudian mengubah konfigurasi sosial, tentulah terlalu berlebihan, sebab mengabaikan pokok pangkal dalam pandangan determinasi teknologi, yaitu perubahan masyarakat Dengan kata lain, teknologi tidak meloncat langsung dalam perubahan struktur moda komunikasi dalam masyarakat.
            Perubahan masyarakat membawa implikasi pada tuntutan pada cara-cara
bertindak dalam kehidupan sosial, baru dari sini kemudian lahir teknologi sebagai jawaban atas tuntutan komunikasi, untuk berikutnya melahirkan moda komunikasi dalam masyarakat. Dengan begitu sumber dari dinamika bagi media komunikasi adalah struktur sosial yang menjadi ruang baginya. Dalam pandangan ini ranah teknologi komunikasi tidak bersifat otonom, tetapi dibentuk dan dipengaruhi oleh struktur sosial. Pada pihak lain, kedudukan manusia pada tataran struktur sosial membawa konsekuensi dalam merespon lingkup kenyataan, baik struktur sosial maupun media komunikasi.
            Struktur media komunikasi akan memaksa manusia untuk menyesuaikan diri dengan kompleksitas permasalahan komunikasi. Pada tahap dasar, setiap orang dipaksa untuk melek media komunikasi (media literacy) yang berbasis pada teknologi sebagai syarat untuk bisa menjadi konsumen informasi. Setiap moda komunikasi memiliki karakteristik yang berbeda, antara lain seperti perbedaan bentuk simbolik yang digunakan menyebabkan masing-masing media membawa bias intelektual dan emosional yang berbeda, atau perbedaan aksesibilitas dan kecepatan informasi akan mengakibatkan perbedaan bias politik, atau perbedaan posisi dalam menghadapi media komunikasi menyebabkan bias sosial yang berbeda pula.
            Konteks keberadaan manusia masa kini pada dasarnya dalam 3 dimensi realitas, empiris, simbolik dan virtual. Dengan demikian setiap manusia pada dasarnya akan menjadiwarga dari 3 masyarakat, masyarakat empiris, masyarakat simbolik dan masyarakat cyber. Ketiga dimensi ini berada dalam kompleksitas moda komunikasi yang berbasis pada teknologi. Pengenalan atas kondisi realitas dapat dilakukan melalui media komunikasi yang mendukung proses interaksi sosial di satu sisi, dan pemaknaan dunia simbolik di sisi lainnya, baik dalam dimensi realitas empiris, simbolik dan virtual. Inilah yang menjadi konteks dari
kekinian manusia Indonesia.
            Keberadaan manusia Indonesia misalnya, pada hakikatnya menghadirkan diri sebagai warga dari masyarakat yang secara sadar atau tidak, didefinisikan sesuai dengan permasalahan dihadapi dan respon yang akan dilakukan. Sebagai warga masyarakat empiris seseorang mendefinisikan diri sebagai konsumen, atau pengguna pelayanan publik. Sebagai warga masyarakat simbolik mendefinisikan diri sebagai orang Jawa atau lainnya. Tetapi sebagai warga dari masyarakat cyber, manusia Indonesia dapat menjadi dirinya sebagaimana dalam masyarakat empiris dan simbolik, atau sepenuhnya sebagai warga masyarakat virtual yang didefinisikan secara teknologis. Sebagai manusia semacam ini, parameter kedirian adalah kemampuan sebagai user, baik sebagai produsen maupun konsumen.
Dari sisi lain, pandangan tentang keberadaan teknologi berkembang dalam wacana yang beragam, dan tantangan bagi setiap warga masyarakat adalah keniscayaan merespon kenyataan yang dibentuk oleh teknologi, menyebabkan ranah teknologi komunikasi semakin penting sebagai fokus perhatian. Melalui respon terhadap moda komunikasi yang lahir dari perbedaaan teknologi komunikasi, seseorang dapat mementukan keberadaannya lebih sesuai dalam dimensi kenyataan yang dihadapinya.
Dalam pengertian ini dorongan kreatif manusia kiranya tetap menjadi landasan dalam konteks determinasi teknologi.
Computer mediated Communication atau yang lebih dikenal dengan CMC ini merupakan reality pada ruang lingkup (alam maya) dengan menggunakan internet. CMC sebenarnya dilakukan dengan cara representasi informasi digital yang bersifat diskrif, yang termasuk model CMC adalah email, chating, wibesite.
Dalam internet komunikasi memiliki konteks komunikasi massa, artinya bahwa pengguna internet dalam melakukan komunikasi berhadapan dengan pengguna lain dalam jumlah banyak yang masing-masing yang berperan sebagai komunikatar dan komunikan, bentuk pesan dan sifat yang disampaikan melalui semua media komunikasi klasik, dimiliki oleh semua medium internet. Pengiriman dan penerimaan serta umpan balik pesan yang disampaikan komunikan dan komunikator relatif lebih cepat. Dalam konteks melalui internet dimungkinkan terjadinya komunikasi antar berbagai personal yang rentang perbedaan baik secara sosiologis maupun budaya yang sangat berbeda. Internet sebagai media komunikasi yang memiliki penawaran interaktif yang dinamis terhadap penggunanya media internet mampu menjadi pusat informasi dan sumber informasi yang tidak terbatas, Luas jangkauan dari media internet tentu saja tidak terbatas, sehingga dengan demikian batasan-batasan dalam fisik dalam melakukan komunikasi semakin disnibikan melalui internet.
Fungsi internet sebagai media, selain sama dengan fungsi media lain, media internet memiliki penawaran untuk mengembangkan bidang jasa maupun bisnis sebagai bagian gaya hidup, lebih menonjolkan superior media internet sebagai media yang beraneka ragam yang berisi banyak perbedaan konfigurasi proses komunikasi pada fasilitas-fasilitas yang dimiliki. http://www.blog.com/CMC-Mc.Luhan.html/
Cara Berkomunikasi Melalui CMC
Dalam CMC banyak media yang dapat digunakan untuk berkomunikasi, diantaranya adalah:
1.      Electronic Mail (E-mail)
E-mail merupakan media yang paling terkenal dalam komunikasi melalui internet. E-maile-mail surat akan diterima secara langsung dan sangat cepat. telah mengubah cara berkomunikasi melalui surat. Bila dulu sebuah surat harus diposkan terlebih dahulu dan penerima harus menunggu beberapa hari hingga surat itu tiba, sekarang dengan mudah dan cepat pesan dapat kita terima.
2.      Bulletin Board System (BBS)
BBS memungkinkan seseorang kontributor mengirimkan sebuah pesan kepada suatu program computer. Program tersebut akan menaruh pesan tersebut di halamannya dimana setiap orang bisa mengakses pesan tersebut melalui halamannya.
3.      Internet Relay Chat (IRC)
Tidak seperti e-mail dan BBS, IRC memiliki cara kerja yang sedikit berbeda. Dua orang atau lebih melakukan interaksi secara langsung layaknya orang mengobrol. Hanya saja dalam IRC, obrolan terjadi melalui halaman chat melalui koneksi internet.
4.      Multi-User Domains (MUD)
MUD adalah sebuah wadah multi-user tempat atau wadah dimana para penggunanya berinteraksi melalui dunia maya secara real-time. MUD menggabungkan elemen-elemen berupa permainan (role-playing games), hack dan slash, interaksi secara fiksi, dan percakapan secara online (online chat).
5.      World Wide Web (WWW)
World Wide Web (WWW) atau biasa disebut Web adalah suatu ruang informasi yang yang dipakai oleh pengenal global yang disebut Uniform Resource Identifier (URI) untuk mengidentifikasi sumber-sumber daya yang berguna. Web sering dianggap sama dengan Internet secara keseluruhan, walaupun sebenarnya ia hanyalah bagian daripadanya.
            Facebook disebut sebagai salah satu bentuk/media CMC yakni termasuk dalam World Wide Web (www) atau yang dimaksud dengan Web. Web adalah suatu ruang informasi yang yang dipakai oleh pengenal global yang disebut Uniform Resource Identifier (URL) untuk mengidentifikasi sumber-sumber daya yang berguna. Web sering dianggap sama dengan Internet secara keseluruhan, walaupun sebenarnya ia hanyalah bagian daripadanya.
Karakteristik Komunikasi Online
1.      Packet-Switching
Internet dibuat dengan tujuan untuk mengirim pesan melalui banyak jalur, tidak seperti telepon yang hanya menggunakan satu saluran. Pada telepon, saat transmisi terakhir berjalan, komputer membagi pesan menjadi beberapa paket informasi. Setiap paket kemudian akan menuju ke tujuannya masing-masing apabila pesan tersebut ditujukan ke beberapa alamat. Tetapi, bagaimana pun juga jaringan telepon telah menciptakan sebuah “pathway” atau sebuah jalan untuk memastikan setiap paket informasi sampai pada tujuannya dengan cepat
Berbeda dengan cara kerja saluran telepon, packet-switching dalam komputer bekerja dengan cara mendanai setiap paket informasi dengan alamat pengirim dan alamat tujuan seperti halnya surat pribadi yang dikirimkan melalui pos.
2.      Multimedia
Dalam World Wide Web, stiap pesan dapat memuat media-media berupa tulisan, gambar, animasi, dan suara. Dengan kata lain, Web dapat berkomunikasi melalui berbagai macam medium. Internet, khususnya Facebook memungkinkan pengiriman pesan berbentuk gambar, teks, suara bahkan video, meskipun kualitasnya sangat tergantung pada kecepatan aksesnya.
3.      Interactivity
Internet memperbolehkan terjadinya interaksi antar penggunanya. Bagaimanapun juga, dengan media yang berbeda interaksi pun terjadi pada level yang berbeda.
Facebook merupakan media CMC yang juga sangat Interaktif, karena memungkinkan pola komunikasi secara langsung yakni Chat (obrolan). Dalam media facebook juga memungkinkan komunikasi timbal balik secara cepat dan langsung. (Deddy Mulyana)
4.      Synchronicity
Internet telah mengubah cara menyampaikan pesan dengan menembus jarak dan waktu. Komunikasi synchronous adalah komunikasi saat dua atau lebih partisipan berinteraksi pada waktu yang bersamaan (real time).
Jejaring sosial Facebook memungkinkan pola komunikasi tanpa ada selang waktu / Real time atau juga bisa memiliki jeda waktu. Misalnya yang berjeda waktu adalah content Comment yang hanya terlihat ketika kita telah melihat adanya notification dahulu.
5.      Hypertextuality
Hypertext adalah salah satu tipe penulisan non-sequential dimana sebuah arti tercipta melalui pengalaman dalam membaca. Dalam internet seseorang bisa menuliskan sesuatu di masa lalu namun dapat diakses di masa sekarang melalui World Wide Web.
        Facebook jika dikorelasikan dengan teori / prespektif Joseph Walther :
1.      Impersonal
2.      Interpersonal
Kaitannya dengan Komunikasi Online / Facebook
Chatting : Penggunaan Emoticon( Smile :) )
·         Verbal
Merupakan representasi tekstual dari pembicaraan, misal tertawa (hahaha), menangis (hiksz..hiks..)
·         Deskripsi dari Aktivitas Fisik
Saya angkat topi (Tanda penghormatan )
·         Penekanan / Streching
Bisa diwujudkan dalam perintah / penggunaan huruf kapital
Penggunaan Warna
·         Smily
Penataan karakter yang berasal dari urutan Keyboard
Dikembangkan dalam bentuk gambar, misalnya (^_^), :)
(T_T), dsb.

Model SIDE (Social Identification / Deindividuation )
Dikemukakan oleh Tom Postumes, Spears dan Lea. Asumsi dari model ini adalah sebuah hubungan dapat tercipta dalam Komunikasi Online. Daya tarik interpersonal dan penerimaan individu dalam komunikasi Online didasarkan atas identifikasi diri dari norma kelompok.
Model SIDE memprediksi bahwa seseorang dapat saja mengesampingkan identitas personal dan mengadopsi identitas sosial yang pantas dalam rangka mencari penerimaan dalam komunikasi Online. Dalam Facebook, Kita dapat menyesuaikan identitas diri kita ke dalam norma atau atuarn kelompok. Kita akan cenderung menyesuaikan gaya bicara, Topik dan komentar supaya ada feedback.Selain itu juga kita bisa saja mengubah nama asli kita menjadi Nickname yang kita sukai , atau bisa saja kita menggunakan istilah-istilah khusus.
3.      Hyperpersonal
Dikemukakan lebih lanjut, bahwa CMC ini sangat membantu individu pemalu, yang dapat mengalami kecemasan setiap kali berkomunikasi pada saat menjalin hubungan interpersonal. Dengan CMC? bayangkan saja... individu pemalu dapat berkomunikasi dengan lancar-- tanpa ketahuan terjadi perubahan warna ekspresi wajahnya, atau getar-getar suara yang menjadi indikator kegugupan atau ketidak yakinan terhadap kemampuannya dalam berucap. Tetapi, apakah CMC hanya bermanfaat bagi individu pemalu saja? bagaimana dengan yang tidak pemalu?
Untuk membuktikan hal ini ada riset yang cukup ampuh dilakukan oleh Sarah A. Birnie & Peter Horvath (kalau gak salah yang pertama ini postgraduate student, sedangkan yang kedua itu profesornya dari Acadia University Canada) yang dimuat dalam Journal of CMC online. Riset yang dilakukan Birnie dan Horvath ini menguji kesaling hubungan antara komunikasi sosial menggunakan CMC dan Face to face pada individu pemalu. Diasumsikan bahwa individu pemalu akan lebih sering menggunakan CMC untuk berkomunikasi daripada komunikasi Face to face. (catatan: riset ini dilakukan pada universitas yang telah melengkapi semua dosen maupun mahasiswanya dengan koneksi internet, sehingga variabel connectivity dapat diabaikan). Riset ini melaporkan bahwa CMC menjadi pelengkap atau sarana untuk meningkatkan daripada sebagai pengganti media komunikasi. Artinya, kuantitas maupun kualitas komunikasi interpersonal individu pemalu dan tidak pemalu menjadi meningkat dengan CMC. CMC telah menjadi sarana untuk meningkatkan keakraban komunikasi Face to face.
Ada yang tertarik untuk mengkaji mengenai kualitas komunikasi ini? Risetnya Gill & Oberlander (2003) lebih memberi perhatian pada kaitan kepribadian dengan penggunaan bahasa dalam ber email ria. Nah ini yang menarik tentu saja (saya pingin sekali melakukan riset serupa ini) kata Gill & Oberlander ini pemilihan kata dan gaya mengekspresikan ide individu ekstravert itu berbeda secara signifikan dengan yang introvert. Misalnya, kalao ekstrovert menggunakan sapaan Hi sehingga kesannya lebih informal dan santai sedangkan si introvert menggunakan Hello yang lebih formal. Lalu ada lagi, si introvert suka sekali menggunakan quantifiers (kesannya exaggergation?) sedangkan yang ekstrovert tidak. Dan yang lebih mudah terlihat lagi adalah dalam hal Ability, individu ekstrovert secara terbuka mengatakan mereka dapat (able) atau pingin (want) tetapi si introvert akan mengekspresikannya dengan cara "saya coba (trying)" atau saya usahakan ... dan banyak lagi hal yang lainya.
Memang CMC ini sudah mengubah kesempatan orang dalam berkomunikasi. Bila dulu, pada saat komunikasi interpersonal -sebagian besar sekali- hanya dapat dilakukan dengan Face to face atau telepon sehingga kita harus meninggalkan tugas pekerjaan karena akan melakukan diskusi atau berinteraksi melalui komunikasi secara langsung dengan orang lain.
Selain itu, facebook bisa membuat seseorang lebih baik mengekspresikan dirinya sendiri dalam Komunikasi Online, dibandingkan dengan komunikasi secara Langsung Contoh : Kelebihan diri di ekspose di dunia maya (fenomena Narsis) tetapi di dunia nyata sangat pemalu dan tertutup.
Bermain facebook terasa sangat menyenangkan hingga sebagian orang merasa cukup dengan berinteraksi lewat facebook dan mengurangi frekuensi bertemu dan tatap muka secara langsung. Selain itu, akibat dari rasa yang menyenangkan bagi sejumlah pengguna face book ini maka banyak karyawan perusahaan, dosen, mahasiswa yang bermain facebook pada saat jam bekerja. Mau diakui atau tidak pasti mengurangi waktu kerja. Sebenarnya bisa dikurangi akibatnya jika kita bisa memanage waktu yaitu bermain facebook ketika istirahat. Bukan hanya itu, berkurangnya perhatian terhadap keluarga diakui atau tidak ini terjadi jika kita membuka facebook saat sedang bersama keluarga.        Sebuah riset di inggris menunjukan bahwa orang tua semakin sedikit waktunya dengan anak-anak mereka karena berbagai alasan. Salah satunya karena Facebook. Bisa terjadi sang suami sedang menulis wall, si istri sedang membuat koment di foto sementara anaknya diurusi pembantu.
            Dalam Facebook kita bebas menuliskan apa saja, sering kali tanpa sadar kita menuliskan hal yang seharusnya tidak disampaikan ke lingkup sosial. Persoalan rumah tangga seseorang tanpa sadar bisa diketahui orang lain dengan hanya memperhatikan status dari orang tersebut, sehingga batasan ranah pribadi dan sosial menjadi kabur. Facebook merupakan jaringan sosial yang sifatnya terbuka antara user dan teman-temannya. Seperti kehidupan nyata gosip atau informasi miring dengan cepat juga dapat berkembang di jaringan ini. Haruslah disadari menulis di status, di wall dan komentar diberbagai aplikasi adalah sama saja seperti obrolan pada kehidupan nyata bahkan efeknya mungkin lebih parah karena bahasa tulisan terkadang menimbulkan salah tafsir. Sudah ada kasus pemecatan seorang karyawan gara-gara menulis yang tidak semestinya di facebook, juga terjadi penuntutan ke meja pengadilan gara-gara kesalahpahaman di Facebook. http://osum.sun.com/profiles/blogs/dampak-facebook
Ada sebuah hal yang hilang dari interaksi seperti ini. Bertemu dan tatap muka secara langsung sangat lain dan tidak seharusnya digantikan dengan bertemu di dunia maya. Obrolan, tatapan mata, ekspresi wajah, canda lewat tertawa tidak bisa tergantikan oleh rentetan kata-kata bahkan video sekalipun.














STUDI KASUS I:

Jejaring sosial (face book) vs jurang sosial

            Maniak situs jejaring sosial membuat terjadinya penyimpangan perilaku yang dikenal dengan Facebook addiction disorder. Sepasang suami-istri itu duduk di kafe di bilangan Cikini, Jakarta. Dinaungi cahaya temaram, mereka duduk tenang dengan dua gelas kopi di meja. Setengah jam duduk, keduanya tak bercakap. Mereka justru terpaku pada layar laptop masing masing. Dengan layanan Wi-Fi gratis di kafe itu, keduanya sibuk mengakses situs jejaring sosial.

Kondisi seperti itu kini kian jamak ditemui. Entah menggunakan komputer jinjing atau ponsel, orang sering asyik sendiri dengan aktivitas online, utamanya situs jejaring sosial. Misalnya Facebook atau Twitter. Dua situs jejaring sosial itu memang paling digandrungi. Anggotanya mencapai ratusan juta. Banyak orang maniak dengan situs jejaring sosial hingga membuat mereka menyepi dan jatuh ke jurang sosial. Sampai-sampai ada penyimpangan perilaku dikenal dengan Facebook addiction disorder (FAD). FAD merupakan bagian dari kecanduan Internet (Internet addiction). Walau belum ada dalam kamus psikologi, American Psychiatric Association berencana memasukkan kecanduan ini ke Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima, yang rencananya dirilis pada 2012.
            Sebenarnya, menurut Dr Elias Aboujaoude, Asisten Direktur Klinik Obsessive-Compulsive Disorder pada Stanford School, tidak ada yang salah pada teknologi. "Kecuali kehidupan nyata mulai terganggu. Saat itulah ia jadi masalah," ujar Elias. Penelitian dari University of Guelph, Ontario, Kanada mengungkapkan, situs jejaring sosial menjadi masalah berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan.  (Sumber: Koran Tempo)

Analisis studi kasus:
           
            Kejadian seperti ini merupakan hal yang sangat ironis, yaitu ketika sejumlah orang mulai terhipnotis dengan keasyikan situs jejaring social seperti face book yang saat ini memang marak digandrungi oleh sejumlah orang yang ada dimuka bumi ini. Dan akibat adanya hipnotis oleh situs jejaring social terhadap sejumlah orang yang menggandrunginya yaitu anggapan bagi mereka bahwasanya keadaan dalam kehidupan didunia maya seolah-olah tidak seindah dan senyaman kehidupan nyata yang mereka alami, sehingga mereka terus menerus melakukan interaksi dan komunikasi lewat dunia maya atau situs jejaring social, setelah itu akibatnya adalah terbengkalai semua aktifitas kehidupan sehari-harinya, bagi seorang wanita yang bersuami menjadi mengabaikan suaminya dan bagi suami yang beristripun juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh kedua pasang suami istri yang sedang dijadikan sebagai bahan studi kasus dalam artikel ini.
            Tiga peneliti, yakni Amy Muise, Msc; Emily Christofides, Msc; dan Serge Desmarais, PhD, menemukan fakta bahwa menghabiskan waktu di situs jejaring sosial membuat pasangan mereka cemburu. Jadi mereka menghabiskan waktu untuk mengawasi aktivitas online pasangannya. "Akan jadi masalah jika menghabiskan banyak waktu dengan teman online daripada keluar dengan pasangan," kata mereka. Pendiri Center Online Addiction, psikolog Kimberly S. Young, MD, PhD, menilai candu ini bisa dilihat dari gaya hidup. "Jika dalam hidup Anda online lebih banyak daripada offline, sudah saatnya Anda menilai kembali (perilaku Anda)," ujar Young. Young, yang telah bertemu dengan puluhan remaja yang berusaha menghentikan kebiasaan situs jejaring sosial, menilai kecanduan ini seperti kecanduan lainnya. "Sulit untuk menyapih diri sendiri." Saat ini, Young melanjutkan, tak ada program komputer yang ditujukan untuk membantu penyembuhan mereka yang kecanduan situs jejaring sosial. Bahkan, dua negara dengan populasi online terbanyak, Cina dan Amerika Serikat, harus membuka klinik terapi penyembuhan kecanduan Internet. Di Amerika Serikat, pada Juli 2009, dibuka program untuk rehabilitasi kecanduan Internet. Program selama 45 hari ini dibanderol US$ 14.500. Young lalu menyajikan sejumlah tip agar tak terjerumus dalam candu situs jejaring sosial ini. Pertama, periksa kembali tujuan bergabung dalam situs jejaring sosial. Kenapa Anda bergabung? Apakah tujuan Anda bergabung? Apakah aktivitas Anda di situs jejaring sosial sudah sesuai dengan tujuan?
            Kedua, catat apa yang sebenarnya Anda lakukan di situs jejaring sosial. Catatan ini berguna untuk mengontrol aktivitas Anda. Situs jejaring sosial bisa menjadi kegiatan yang memakan waktu jika Anda membiarkannya.
Terakhir, buat jadwal aktivitas membuka situs jejaring sosial. Dengan jadwal ini, Anda membatasi waktu online agar sesuai dengan tujuan awal Anda. Periksa akun situs jejaring sosial sekali sehari. Ini adalah cara untuk melepaskan diri tanpa harus menghapus situs jejaring sosial dari kehidupan Anda. (Sumber: Koran Tempo).

STUDI KASUS II:

Pemanfaatan Situs Jejaring Sosial Dalam Pemasyarakatan Minat Baca Di Sekolah

            Menjamurnya situs jejaring sosial semacam : MySpace, Friendster, Twiiter dan Face Book merupakan trend pergaulan saat ini. Situs tersebut diminati karena meluaskan networking (jejaring) secara efektif, efiesien dan interaktif menggunakan internet. Pengguna situs tersebut dapat berinteraksi dengan orang lain yang berasal dari beragam profesi, suku bangsa dan negara tanpa terhalang batas ruang dan waktu. Diantara ketiga situs jejaring sosial maka Face Book (FB) merupakan situs favorit pengguna jejaring sosial. Keunggulan situs ini adalah aksesbilitas yakni: mudah diakses dari warung internet maupun handphone yang memiliki fasilitas GPRS. Selain itu, FB memiliki fitur group/fan page yang berfungsi memudahkan penggunanya membuat komunitas/kaukasus dan merekomendasikan/merujuk orang lain untuk dijadikan teman. Adakah relevansi antara ”booming” penggunaan FB dengan pemasyarakatan minat baca? Perlu diketahui bahwa pemasyarakatan minat baca saat ini terkesan seremonial semata.            Pemasyarakatan minat baca hanya berkutat pada seminar, diskusi, simposium, lokakarya maupun bedah buku yang setelah pelaksanaanya tidak ada tindak lanjutnya. Hal tersebut ibarat kita menanam pohon tanpa merawatnya. Lalu bagaimana mungkin pohon tersebut tumbuh besar ?.
            Hendaknya pemasyarakatan minat baca dilakukan secara periodik dan berkesinambungan. Maka Perpustakaan dan pustakawannya khususnya yang bekerja dilembaga pendidikan perlu berpikir ’out of the box’ dalam berinovasi memasyarakatkan minat baca. Dan FB dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media pemasyakatan minat baca di sekolah. Diharapkan kreativitas dan inovasi pustakawan dapat menggugah kepedulian siswa/siswi untuk bersama-sama menciptakan lingkungan pergaulan di sekolah yang mencintai aktivitas baca. http://okezone.com

Analisis studi kasus:
            Face Book merupakan situs sosial yang memungkinkan penggunanya menambahkan teman dan mengirimkan pesan kepada mereka serta memperbarui statusnya. Para pengguna dapat bergabung dengan jaringan sosialnya berdasarkan kota, tempat kerja dan sekolah. Adalah Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard University, bersama Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes kali mengembangkanFace Book pada tahun 2003 Pada awalnya situs ini digunakan terbatas pada lingkungan mahasiswa Harvard. Namun berkembang dan meluas sampai ke universitas lainnya di Boston. Dan saat ini populasi pengguna Face Book seluruh dunia mencapai 350 juta orang (Wikipedia, 2010). Dan pada Januari 2009 compete.com mengadakan penelitian yang menunjukkan Face book sebagai situs jejaring sosial terpopuler yang digunakan para penggunanya.
            Selama ini pemasyarakatan minat baca terkendala oleh keterbatasan tenaga dan biaya. Pelaksanaannya tanpa strategi yang matang akan terkesan menghambur-hamburkan anggaran. Seyogyanya pemasyarakatan minat baca di bedakan persegmentasi dan digunakan strategi yang berbeda pula antar segemen. Karena masing-masing segmentasi memiliki karakteritik yang berbeda pula. Misalnya, pemasyarakatan minat baca dikalangan pelajar atau mahasiswa harus digunakan strategi inovatif dan kreatif. Hal tersebut merujuk pada karakter pelajar atau mahasiswa yang dinamis dan aktif. Sistem ceramah, seminar dan simposium kemungkinan tidak efektif bagi segmen ini. Karena hal-hal yang terkesan formal dan serius cenderung dihindari segmen pelajar atau mahasiswa.Pustakawan dapat melakukan pendekatan yang populer dengan menggunakan FB. Penggunaan FB sebagai salah satu media pemasyarakatan minat baca diyakini efektif dan efisien bagi remaja. Terdapat 3 (tiga) alasan mendasar yakni :
  1. FB merupakan situs jejaring sosial yang banyak diminati saat ini. Populasi pengguna internet khususnya FB semakin tahun semakin meningkat. Dilansir melalui Inside Facebook bahwa 70 % pengguna FB berasal dari luar Amerika. Dan Indonesia merupakan negara FB terbesar ke-3 diseluruh dunia yang mencapai 13,8 juta pengguna pada Januari 2010. (Ekozone.com).
  2. FB bersifat literal. Facebooker (sebutan bagi pengguna FB) yang berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan komunikasi tak langsung. Mereka saling menyebarkan ide maupun mengomentari sesuatu melalui tulisan. Hal tersebut akan menunjang sekali pemasyarakatan minat baca. Mengingat aktivitas membaca tidak terlepas dari pada tulisan sebagai wujud simbol pesan.
  3. Penggunaan Handphone bagi pelajar sudah sebagai kebutuhan. Rata-rata setiap pelajar memiliki satu handphone. Saat ini harga handphone yang bisa terkoneksi intenet semakin mudah dijangkau oleh pelajar.
            FB dapat dimodifikasi fungsinya berdasarkan tujuan penggunanya. Penggunaan FB dapat bersifat personal, bisnis maupun kombinasi keduanya. Dapat kita temui beberapa akun FB yang digunakan pemiliknya untuk mempromosikan produk maupun jasa. Dalam konteks pemasyarakatan minat baca disekolah maka FB dimodifikasi untuk membangun komunitas peminat baca. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :
  1. Pastikan jika kita telah memiliki akun FB. Jika belum maka kita harus mendaftarkan e-mail dan password pada account FB. Ketikkan www.facebook.com untuk mengakses FB. Lalu klik pilihan Register untuk mendapatkan form pendaftaran online. Isilah form tersebut dan setelah semuanya selesai, tunggulah beberapa saat untuk memperoleh verifikasi akun yang dikirimkan FB ke email kita.
  2. Setelah kita memiliki akun maka kita dapat mengoperasikan FB melalui Log in. Kita tinggal masukkan nama email dan password yang telah kita buat sebelumnya. Jika Log In berhasil maka pada FB versi mobile akan menampilkan fitur sebagai berikut : Beranda, Profil, Teman, Kotak Masuk, Pencarian Teman, Pengaturan, Bantuan, Keluar. Pada fitur Beranda terdiri dari komponen : Kabar Terkini; Status, Foto, Penanda (Pemberitahuan, Foto, Catatan, Grup, Acara, SMS).
  3. Salah satu fitur FB yang memungkinkan penggunanya membuat komunitas adalah Grup. Fitur ini terdiri dari informasi yang memuat ukuran, jenis (minat bersama, Bisnis, Regional), status terakhir. Perpustakaan atau Pustakawan sekolah dapat memfasilitasi pembuatan komunitas minat baca disekolah menggunakan fitur ini. Pustakawan dapat bertindak sebagai moderator yang mengatur, mensuplai informasi ringan tapi berbobot berupa : newsletter, resensi dan sinopsis buku terbaru serta mendiskusikannya. Sehingga komunikasi yang terjalin antara moderator dengan anggota grup bersifat 2 (dua) arah secara tidak langsung, non formal dan berkesinambungan. Hubungan yang bersifat dinamis dan pesan-pesan yang menimbulkan penasakan secara psikologis akan menarik perhatian pelajar. Jika rasa tertarik/suka terhadap aktivitas baca sudah muncul maka moderator secara bertahap untuk menumbuhkan dan menanamkan kecintaan terhadap aktivitas tersebut.
  4. Setelah komunitas/grup baca telah terbentuk maka moderator beserta anggotanya secara aktif mereferensikan aktivitasnya kepada teman, saudara maupun kenalan melalui fasilitas Add Friends. Jika aktivitas ini rutin dilakukan maka bukan tidak mungkin semakin banyak orang yang ingin bergabung. Sehingga komunitas yang semula kecil lama kelamaan akan tumbuh menjadi komunitas yang lebih besar.
  5. Kegiatan lanjutan yang dapat dilakukan antar anggota komunitas adalah menyelanggarakan acara Off air. Komunitas minat baca yang telah terbentuk dapat menyelenggaran acara Book Fiesta. Hal tersebut untuk menghindari kejenuhan berkomunikasi melalui dunia maya sekaligus mempererat hubungan yang telah terjalin selama ini. Acara tersebut dapat melibatkan berbagai pihat terkait seperti :
Sekolah, perpustakaan sekolah, guru, murid, wali murid serta penerbit. Kegiatan tersebut dapat berupa : lomba sinopsis, resensi, adu kreativitas majalah dinding, bazaar buku, donor buku, diskusi, seminar, talkhow maupun workshop singkat tentang dunia baca tulis. Media sosialisasinya juga dapat menggunakan fitur : Acara pada FB sebagai bentuk undangannya.
            Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa, pemasyarakatan minat baca dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yakni: komunitas. Segmentasi yang potensial sebagai sasarannya adalah pelajar/mahasiswa. Karena memiliki populasi yang besar, aktivitas hariannnya masih terkait dengan dunia akademik, bersifat dinamis dan mau menerima perubahan. Perlu strategi yang jitu, kreatif dan inovatif dalam memasyarakatkan minat baca dikalangan pelajar. Salah satunya adalah penggunaan teknologi.
            Facebook sebagai situs jaringan sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana pemasyarakatan minat baca dikalangan pelajar, mahasiswa. Beberapa asumsi yang mendasarinya adalah : FB merupakan situs jejaring sosial yang banyak diminati saat ini. Karena dari tahun ketahun populasinya semakin meningkat. Selain itu, FB bersifat literal yakni: facebooker saling berkomunikasi dan menyebarkan ide maupun mengomentari suatu ide/pendapat melalui tulisan.             Hal tersebut menunjang dalam pemasyarakatan minat baca. Mengingat aktivitas membaca tidak terlepas dari pada tulisan sebagai wujud simbol pesan. Semakin menjamurnya pemakaian handphone yang terkoneksi dikalangan pelajar merupakan peluang untuk mengimplentasikan strategi ini.
            Sinergi antara penggunaan FB dalam pemasyarakatan minat baca dapat dirintis dengan membuat akun FB. Selanjutnya membuat Grup yang berdasarkan minat yakni: membaca. Setelahnya, moderator mengirimkan informasi ringan dan berbobt kepada anggota jaringanya tentang berbagai aktivitas yang menumbuhkan minat baca secara rutin. Untuk memperbesar komunitas maka baik moderator maupun anggota jaringan secara aktif merefensikan Grupnya kepada teman, saudara, maupun orang yang dikenalnya untuk bergabung. Acara Off Air perlu juga diadakan untuk memelihara dan menjaga kesolidan Grup. Hendaknya acara tersebut berisi kegiatan yang masih terkait dengan aktivitas baca tulis. Diharapkan penggunaan teknologi memjadi strategi yang efektif dan efisien dalam memasyarakatkan minat baca dikalangan pelajar.

 

















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Computer-Mediated Communication (CMC) adalah istilah yang digunakan untuk melakukan komunikasi antar dua orang atau lebih yang dapat saling berinteraksi melalui komputer yang berbeda. Hal yang dimaksud di sini bukanlah bagaimana dua mesin atau lebih dapat saling berinteraksi, namun bagaimana dua orang atau lebih dapat berkomunikasi satu dengan lainnya dengan menggunakan alat bantu komputer melalui program aplikasi yang ada pada komputer tersebut. Dengan ini dapat diketahui, bahwa yang diperlukan partisipan CMC dalam menjalankan komunikasi dengan komunikannya harus melibatkan dua komponen, yaitu computer dan jaringan internet. Sebenarnya, bukan hanya computer dan jaringan internet saja, namun dalam computer tersebut harus terdapat program atau aplikasi tertentu yang memungkinkan komunikator untuk berinteraksi dengan komunikannya. Facebook sebagai Media berkomunikasi via komputer merupakan pilihan yang cukup lengkap karena mencangkup lima karakteristik komunikasi Online dan 2 Argumentasi dari Teori Joseph Walker. Namun dalam Dalam CMC, kita juga harus mengenal psikologis komunikan. Ini sangat penting diketahui oleh para partisipan CMC. Kita harus mengenal efek yang ditimbulkan oleh Internet yaitu :
Antisocial behavior
            Studi-studi eksperimental memperliatkan bahwa games komputer yang mengandung kekerasan sama bahayanya dengan kekerasan yang ditayangkan di televisi. Studi lain juga menemukan bahwa video games mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk memicu anak-anak untuk melakukan kekerasan dibandingkan dengan kekerasan di televisi maupun di kehidupan nyata.
            Walupun telah diatur dalam peraturan penggunaan Facebook, tetap saja ada pihak yang memanfaatkan facebook untuk kegiatan negatif melalui group ataupun pages, sebagaimana situs jejaring sosial lainnya tentu ada saja yang memanfaatkan situs semacam ini untuk kegiatan berbau pornografi. Face book juga membawa pornografi ke dalam rumah dan ruang kelas. Sebuah survey akhir-akhir ini menunjukkan bahwa seperempat anak-anak berusia 10 sampai 17 tahun telah terkena terpaan yang tidak diinginkan terhadap materi seksual di internet dan beberapa di antaranya sangat kecewa dengan pengalamannya. Beberapa dari terpaan yang tidak diinginkan ini datang dari berbagai situs porno yang mencoba membuat banyak orang mengunjungi situs tersebut dengan menggunakan situs populer yang biasa dibuka anak-anak. Studi lain tentang komputer interaktif pornografi menemukan bahwa tidak ada efek pada sikap maupun tindakan agresif terhadap wanita di antara laki-laki lulusan kuliah. http://okampung.ngeblogs.com/2009/10/03/dampak-penggunaan-facebook/
            Computer anxiety
            Penelitian lain lebih berfokus pada penggunaan disfungsi yang terjadi pada komputer itu sendiri, daripada kepada efek dari isinya. Computer anxiety, atau yang sering disebut dengan cyberphobia dan computerphobia, merupakan ketakukan akan komputer itu sendiri. Phobia ini dapat mengakibatkan nausea, vertigo dan keringat dingin. Ketakutan lain misalnya takut merusak jika menekan tombol yang salah, cemas akan efek sosial dari komputer, dan ketakukan pada kegagalan pribadi. Phobia ini banyak diderita oleh wanita dan orang-orang yang memiliki kemampuan matematika yang kurang baik.
Addiction
      Resiko lain dari komputer adalah internet addict, yang dilatar belakangi oleh kemampuan media komputer dalam berinteraksi dan merespon gerakan pengguna, baik dengan melakukan apa yang kita inginkan, maupun tidak. Itu yang membuat sebagian orang ingin kembali menggunakannya, menimbulkan perilaku ketagihan. Bukti dari perilaku ini adalah bangkrutnya orang-orang dewasa karena terlalu banyak bermain interactive game di internet. Problem ini menyebar dengan adanya kecenderungan melakukan judi, misalnya dengan liga olahraga fantasi di internet. Para peneliti menyarankan bahwa gejala dari internet addiction merupakan indikasi dari formasi media habbit. Seorang psikologis, Sherry Turkle lebih merujuk pada metafora bujukan, dibandingkan ketergantungan. Penekanannya adalah holding power pada komputer tidak datang secara eksternal, namun lebih pada para penggunanya, apa yang mereka pelajari tentang diri mereka melalui kegilaannnya pada media komputer.
            CMC menjadi hal yang sangat penting untuk dijadikan sebuah pengetahuan. Mengapa? Karena terlihat dari sisi fenomenal yang terjadi dalam masyarakat, bahwa media teknologi komputer kali ini sudah sangat marak, bahkan dapat dilihat dari kebangkrutan PT.Pos Indonesia dikarenakan teknologi instant sudah melewati batas dunia nyata. Hal ini menjadi penting, karena masyarakat menganggap untuk berkomunikasi dengan duniam tidak perlu susah dan tidak perlu lagi mahal. Hanya dengan sekejap saja, kita dapat menggapai komunikasi yang kita inginkan dengan menggunakan CMC. Sebuah Media (misal Jejaring Sosial) bisa sangat bermanfaat bagi manusia terutama untuk membantu sarana berkomunikasi Jarak jauh. Namun tetap saja ada kelemahan apalahi jika kita tidak dapat meng-counter efek-efek negatif dan menyesuaikan diri dengan norma dan aturan kelompok yang ada.











DAFTAR PUSTAKA
·         Arifin, Anwar, 1988, Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar Ringkas, Rajawali Press, Jakarta
·         Arifin, E Zaenal, 1998, Dasar-dasar Penulisan Karangan Ilmiah, Grasindo, Jakarta
·         Cangara, Hafied, 1998, Pengantar Ilmu Komunikasi, Rajawali Press, Jakarta
·         Mulyana, Deddy, 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Rosda Karya, Bandung
·         Nasution, Zulkarmain, 1989, Teknologi Komunikasi Dalam Prespektif Latar Belakang dan Perkembangannya, Lembaga Penerbitan Purwadi, Daniel H, 1997, Mengenal Internet jaringan Informasi Dunia, Elex Media Computindo, Jakarta

Sumber-sumber lain:
·         http://osum.sun.com/profiles/blogs/dampak-facebook, Akses: Selasa, tanggal 03 januari 2011, pukul 12.20-12.50
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Facebook, Akses: Selasa, tanggal 03 januari 2011, pukul 13.30-13.56
·         http://okezone.com,Akses : Selasa, tanggal 03 januari 2011, pukul 14.30-14.50
·         http://okampung.ngeblogs.com/2009/10/03/dampak-penggunaan-facebook/, Akses: Rabu, tanggal 04 januari 2011, pukul 10.15-10.30
·         http://osum.sun.com/jurnal/blogs/CMC-facebook, Akses : Rabu, tanggal 04 januari 2011, pukul 11.00-11.30
·         http://virtual.co.id/blog/cyberpr/feedback-30/, Akses : Rabu, tanggal 04 januari 2011, pukul 11.58-12.30
·         (http://www.blog.com/CMC-Mc.Luhan.html/), Akses: Minggu 28, November 2010, 11-12.00
·         Koran KOMPAS edisi sabtu, 21-08-2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar